Follow your passion, get your bliss. Follow your passion, get your bliss. Follow your passion, get your bliss. Follow your passion, get your bliss.

Rabu, 16 Januari 2013

Memaafkan atau Mengikhlaskan?

Memaafkan.

Satu kata itu yang saat ini sedang melayang-layang di pikiran saya. Saya berpikir, apakah saya termasuk orang yang mudah memaafkan atau tidak? Saya masih mencari-cari jawabannya sampai saat ini. Setiap kekecewaan ataupun kemarahan yang saya rasakan tidak selalu mendapatkan reaksi yang sama dari saya. Beberapa masalah malah sudah tidak saya ingat lagi. Lagian untuk apa mengingat hal-hal itu? Hanya menambah penyakit hati saja. Berbeda dengan beberapa kasus yang seperti menjadi pengecualian. Biasanya justru rasa kecewa itu sulit sekali dihilangkan apabila yang melakukannya adalah orang terdekat saya.

Beberapa saat yang lalu, saya iseng-iseng membaca blog seseorang yang saya kenal. Di salah satu postingannya terdapat satu keterangan kalimat yang membuat saya kembali mengingat masa lalu. Ya, hanya satu kalimat dan segala kejadian yang sungguh menyesakkan hati saya kembali meruak. Sebenarnya saya sudah tidak ingin membahas hal ini lagi, hanya saja saya rasa ini perlu agar ganjalan di hati saya berkurang-setidaknya.

Kejadian ini terjadi ketika saya masih menyandang status sebagai seorang siswi. Saya dekat dengan seseorang dan karena suatu hal kita menjauh, dia yang mulai menjauhi saya. Tentunya saya bingung dengan perubahan yang tiba-tiba ini tapi karena memang saya yang entah tidak punya keberanian atau apa, tidak pernah menuntut penjelasan. Lebih kurang selama enam bulan--yang menyiksa saya--hubungan kami hanya sebatas teman pada umumnya meski saya masih menyimpan sebuah tanda tanya besar. Lalu, dia mulai mendekati saya lagi dan menjelaskan semuanya. Saya kini tahu alasan di balik semua perubahan sikapnya terhadap saya. Semenjak saat itu, saya dan dia kembali dekat, seperti dulu.

Ternyata semuanya tidak bertahan lama. Dalam kurun beberapa bulan kedekatan kami, dia sepertinya mulai berpaling. Saat itu saya sungguh kecewa dan sakit. Dia, orang pertama yang kepadanya saya memberikan seluruh perasaan saya dan ternyata dia juga orang pertama yang menyakiti saya begitu dalamnya, berkali-kali malah. Ketika dia ingin menjelaskan semuanya, saya malah menghindar. Menghindar. Hanya itu yang dapat saya lakukan, kekanak-kanakan sekali memang saya ini. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk mengakhiri semua ini. Hubungan yang diawali tanpa status dan ikatan apapun harus diakhiri tanpa status juga. Memang, tidak ada perubahan apapun dalam status kami hanya saja sikap kami saling berubah terhadap satu sama lain.

Kami seperti orang asing. Bahkan sampai kami sudah menjadi mahasiswa pun tetap seperti itu. Pernah satu kali, saya dan teman-teman sekolah mengadakan kumpul-kumpul. Bukan reuni seluruhnya, hanya sebagian. Saat dia menyapa saya, saya hanya menanggapi dengan senyum seadanya. Itu pun saya paksakan agar terlihat tidak terpaksa. Sebenarnya saya tidak ingin seperti itu tapi wajah saya yang memang pada dasarnya jutek ini terpasang seperti itu dengan sendirinya, ah begitulah. Kami hanya saling mendiamkan saat itu. Maaf, bukan maksud hati seperti itu.

Saya sudah dan selalu mencoba untuk memaafkan dan mengikhlaskan tapi memang sulit, apalagi dia pernah menjadi orang terdekat saya. Dikecewakan oleh orang yang kita sayangi dan percaya itu sungguh menyakitkan, percayalah. Semoga kami tidak saling mendiamkan satu sama lain lagi, ini justru lebih menyakitkan lagi. Saya akan mencoba menerima semuanya dan bersikap biasa saja tanpa perlu mengingat-ingat kembali hal yang sudah lalu. Mari mulai menata hati! \m/

Intinya, saya akan mencoba untuk selalu memaafkan apapun dan siapapun. Allah menyukai orang-orang yang pemaaf.

Satu lagi! Selamat tahun baru 2013! Hehe telaaaaaaat! XP

0 komentar:

Posting Komentar